Puisi Riyan Permana Putra, Catatan Sejarah Air Mata PKL Jelang Seratus Tahun Jam Gadang

Oleh : Dr (c). Riyan Permana Putra, SH, MH [Pengacara, Ketua DPD Perindo Bukittinggi, dan Wakil Ketua Bid. Hukum KAHMI Bukittinggi]

Di kota sejuk Bukittinggi,
angin Ramadan berhembus pelan,
membawa harap yang sederhana—
tentang Lebaran, tentang pulang, tentang kebahagiaan.

Di bawah bayang jelang seratus tahun Jam Gadang berdiri,
ia telah menyaksikan waktu berjalan tanpa lelah,
melihat tawa, perjuangan, dan air mata,
yang silih berganti mengisi kota ini.

Namun di sudut-sudut Pasar Atas Bukittinggi,
di bawah lampu-lampu yang setia menemani malam,
ada air mata yang tak jatuh,
ada kegelisahan yang tak terucap,
ada hati yang diam-diam cemas menatap esok.

Payung-payung PKL,
lapak-lapak kecil itu,
yang dulu menjadi denyut nadi kota,
yang dulu ikut menghidupkan malam di kaki Jam Gadang,
kini menyimpan tanya:
“Masihkah kami bisa berjualan setelah Lebaran 2026 usai?”

Padahal sebentar lagi hari kemenangan,
hari di mana anak-anak menunggu baju baru,
hari di mana dapur harus tetap menyala,
hari di mana harapan seharusnya tumbuh, bukan runtuh.

Namun kabar itu datang—
tentang pemindahan, tentang kehilangan ruang,
tentang kehidupan yang harus berpindah,
di bawah saksi bisu Jam Gadang
yang telah berdiri selama satu abad.

Seratus tahun ia berdiri,
menjadi simbol kebanggaan kota,
namun hari ini ia juga menjadi saksi,
ketika sebagian warganya mulai kehilangan tempatnya.

Di tengah kegelisahan itu,
aku memilih tidak diam,
aku memilih merasakan apa yang dirasakan rakyat kecil.

Aku tahu…
bagi sebagian orang ini hanya kebijakan,
tapi bagi mereka—
ini soal makan atau tidak, hidup atau tidak.

Aku melihat wajah-wajah lelah itu,
yang tetap tersenyum meski hati diguncang,
yang tetap berjualan meski bayang-bayang kehilangan
kian dekat di depan mata.

Dan dengan suara yang tenang namun dalam,
seolah menggema hingga ke menara Jam Gadang,
salah satu dari mereka berkata:
“Menata kota itu penting…
tapi jangan sampai setelah Lebaran,
periuk nasi kami berubah menjadi kesedihan.”

Sebab apa arti seratus tahun kebanggaan,
jika hari ini ada yang kehilangan penghidupan?
Apa arti megahnya kota,
jika ada yang harus menangis dalam diam?

Aku memilih berdiri di sana—
di antara payung-payung lapak sederhana,
di bawah bayang Jam Gadang yang terus berdetak,
di antara harapan yang hampir jatuh,
menjadi penguat bagi mereka yang hampir lelah.

Karena setelah lebaran 2026 seharusnya membawa bahagia,
bukan ketakutan akan kehilangan.

Dan kota yang besar…
bukan hanya tentang sejarah yang dibanggakan,
tapi tentang bagaimana ia menjaga setiap warganya
tetap hidup…
tetap bertahan…
dan tetap pulang dengan senyuman.(*)

Bagikan:
Hubungi Pengacara