Refleksi 25 Januari: Teladan Lafran Pane Berpengaruh Tanpa Kekuasaan, Mencetak Kader HMI Berpengaruh di Era Digital dan Abad Kedua HMI
Oleh: Dr (c). Riyan Permana Putra, SH, MH
Pengacara, Ketua DPD Partai Perindo Bukittinggi dan Wakil Ketua Bidang Hukum KAHMI Bukittinggi
Tanggal 25 Januari 1991 bukan sekadar penanda wafatnya Lafran Pane, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hari itu adalah momentum sunyi yang paling keras menegur HMI hari ini. Lafran Pane wafat dalam kesederhanaan, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, tanpa meninggalkan kemewahan, jabatan, atau kekuasaan—kecuali warisan nilai yang hingga kini diuji oleh zaman. Dalam konteks menuju satu abad HMI, tanggal ini seharusnya dibaca bukan sebagai nostalgia, melainkan cermin etik: sejauh mana HMI masih setia pada spirit awal perjuangannya.
Kesederhanaan dan Integritas: Etika Gerakan
Lafran Pane menunjukkan bahwa pengaruh besar tidak harus dibangun dari kedekatan pada kekuasaan. Ia menulis, “Seorang kader harus menempatkan nilai di atas ambisi pribadi; organisasi bukan untuk memperkaya diri atau membangun nama besar, melainkan untuk mencetak manusia yang bermanfaat bagi bangsa”. Bahkan lebih jauh ia menegaskan, “Hidup sederhana adalah bentuk ketulusan pengabdian; tanpa kesederhanaan, nilai yang kita perjuangkan mudah terkontaminasi oleh kepentingan pribadi”.
Keteladanan ini menjadi semakin relevan di era digital, ketika popularitas dan sorotan publik sering disamakan dengan kualitas dan integritas. Banyak organisasi saat ini terjebak pada angka—jumlah follower, trending topic, liputan media—tanpa mempertanyakan apakah nilai inti mereka tetap hidup. HMI, jika ingin tetap relevan di abad keduanya, harus menjadikan kesederhanaan sebagai etika gerakan, bukan sekadar slogan kaderisasi.
Konsistensi Nilai di Tengah Godaan Zaman
Lafran Pane konsisten pada prinsip Islam dan keindonesiaan, meskipun tekanan politik dan ideologis sangat kuat. “Nilai-nilai dasar HMI adalah pedoman yang tidak boleh ditukar dengan kenyamanan atau keuntungan sesaat,” tulisnya. Ia menekankan bahwa integritas individu kader menentukan kekuatan organisasi.
Di era digital, godaan itu berubah bentuk. Pragmatisme, transaksi kepentingan, dan komodifikasi organisasi hadir dalam wujud like, share, atau endorsement. Organisasi bisa terlihat besar dan aktif, tetapi nilai-nilainya perlahan terkikis. HMI menghadapi risiko serupa: eksistensi digital tidak boleh menggantikan substansi perjuangan. Analisis ini menegaskan bahwa organisasi yang kehilangan orientasi nilai akan mengalami stagnasi moral, meski tampak sukses secara kuantitatif.
Pengaruh Tanpa Kekuasaan
Salah satu pelajaran paling penting dari Lafran Pane adalah bahwa pengaruh sejati lahir dari integritas, bukan jabatan formal. “Pengaruh tidak selalu berada pada kursi kekuasaan; pengaruh sejati lahir dari keteguhan nilai dan kemampuan menuntun tanpa memerintah,” tulisnya.
Bagi kader HMI modern, pesan ini krusial. Saat memasuki ruang publik—politik, birokrasi, media, atau bisnis—integritas personal harus menjadi fondasi perjuangan. Tanpa itu, HMI hanya akan melahirkan elit, bukan pemimpin perubahan. Lafran Pane menekankan, “Kader HMI harus menjadi manusia yang mampu memimpin perubahan, bukan sekadar mengikuti arus atau mempertahankan posisi.”
Pengaruh yang lahir dari integritas adalah strategi jangka panjang. Popularitas instan atau posisi tinggi bisa memberi efek sesaat, tetapi hanya nilai yang konsisten akan membentuk reputasi organisasi yang abadi.
25 Januari sebagai Hari Tafakur Gerakan
Jika 5 Februari adalah hari kelahiran HMI, maka 25 Januari layak diposisikan sebagai hari tafakur gerakan. Hari ini menjadi cermin untuk introspeksi: apakah HMI masih berjalan di jalur Lafran Pane, atau hanya membawa nama besarnya tanpa nilai?
Menjadikan 25 Januari sebagai momentum refleksi akan membantu kader menyeimbangkan aksi dengan integritas dan orientasi nilai. Di tengah perubahan cepat, introspeksi adalah senjata untuk tidak terseret arus pragmatisme.
Menuju Satu Abad HMI: Reaktualisasi Nilai dan Reorientasi Perjuangan
Menuju abad kedua, HMI harus melakukan tiga hal sekaligus:
1. Refleksi gerakan: Mengevaluasi relevansi organisasi dengan problem riil umat dan bangsa.
2. Reaktualisasi nilai: Menerjemahkan Islam dan keindonesiaan ke dalam konteks digital—melawan disinformasi, membangun literasi digital, dan mengelola opini publik.
3. Reorientasi perjuangan: Mencetak kader dengan integritas kuat, bukan sekadar mengejar jabatan atau popularitas.
Lafran Pane menegaskan, “Kader HMI harus menjadi manusia yang mampu memimpin perubahan, bukan sekadar mengikuti arus atau mempertahankan posisi.”
Menjadi kader HMI di abad kedua berarti memahami konteks zaman, tetapi tetap setia pada pijakan moral dan ideologis. Era digital bukan ancaman jika nilai dijadikan fondasi; tanpa nilai, kemajuan teknologi justru bisa menjerumuskan organisasi ke pragmatisme dan kehilangan tujuan.
Aplikasi Langsung bagi Kader HMI
Bagi kader HMI, pesan Lafran Pane bukan sekadar inspirasi, tetapi bisa diaplikasikan secara konkret:
1. Prioritaskan Nilai daripada Popularitas: Di media sosial, jangan hanya mengejar like atau trending topic. Fokuslah pada konten yang bermanfaat, mendidik, dan sesuai prinsip.
2. Integritas sebagai Mata Uang Utama: Dalam organisasi kampus atau komunitas, utamakan kejujuran, konsistensi, dan transparansi. Integritas akan membangun reputasi jangka panjang.
3. Aktif tapi Reflektif: Ambil peran dalam gerakan sosial, politik, atau kegiatan kemanusiaan, tetapi selalu lakukan evaluasi diri: apakah tindakan selaras dengan prinsip?
4. Sederhana tapi Bermakna: Tidak perlu tampil mewah untuk menunjukkan kapasitas. Kepemimpinan yang otentik lahir dari kesederhanaan dan fokus pada substansi.
5. Gunakan Digital untuk Nilai, Bukan Citra: Media digital adalah alat. Gunakan untuk membagikan ide, literasi, atau advokasi nilai, bukan sekadar branding diri atau organisasi.
Dengan langkah-langkah praktis ini, anak muda bisa menjadi kader yang relevan, kreatif, dan berintegritas, sekaligus menjaga semangat HMI agar tetap hidup di abad kedua.
Penutup
Wafatnya Lafran Pane pada 25 Januari 1991 mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu dirayakan, tetapi harus dipertanggungjawabkan secara moral. Menuju satu abad, HMI diuji bukan oleh kekuatan eksternal, tetapi oleh pilihan internal: tetap setia pada nilai atau larut dalam arus zaman.
Sejarah tidak akan menilai seberapa besar HMI pernah ada, tetapi seberapa jujur ia setia pada nilai pendirinya. Integritas, kesederhanaan, dan konsistensi nilai adalah fondasi perjuangan. Jika HMI mampu meneladani itu, organisasi ini tidak hanya akan bertahan, tetapi tetap relevan dan berpengaruh di era digital dan abad keduanya.
