Riyan Permana Putra : Maret 2026, 117 Tahun Sutan Sjahrir, Melawan Arus Demi Menjaga Kebenaran Republik
Oleh : Dr (c). Riyan Permana Putra, SH, MH [Pengacara, Pimpinan DPD Partai Perindo Bukittinggi, Direktur LBH Ummat Islam Bukittinggi, dan Wakil Ketua Bid. Hukum KAHMI Bukittinggi]
Maret 2026 bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender. Ia adalah ruang sunyi untuk merenung—117 tahun sejak kelahiran seorang anak Minangkabau yang kelak menjadi salah satu penentu arah republik ini: Sutan Sjahrir. Dalam rentang waktu lebih dari satu abad, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah sekadar “apa yang telah ia lakukan,” tetapi “apakah kita masih memiliki keberanian seperti dirinya?”
Karena jika kita jujur, krisis terbesar bangsa ini hari ini bukan pada kekurangan orang pintar, bukan pula pada minimnya sumber daya. Krisis kita adalah krisis keberanian—keberanian untuk berkata benar, keberanian untuk berbeda, dan yang paling penting, keberanian untuk melawan arus ketika arus itu menjauh dari kebenaran.
Sutan Sjahrir hadir dalam sejarah bukan sebagai tokoh yang sekadar mengikuti zaman, tetapi sebagai sosok yang berani mengoreksi zaman. Ia tidak larut dalam euforia massa, tidak tunduk pada tekanan kekuasaan, dan tidak silau oleh popularitas. Bahkan di masa-masa paling genting setelah kemerdekaan, ketika republik masih rapuh dan penuh ketidakpastian, ia justru memilih jalan yang paling berat: berpikir jernih dan bertindak berdasarkan prinsip.
Dalam usia muda, ia memikul tanggung jawab besar sebagai Perdana Menteri. Namun lebih dari itu, ia memikul sesuatu yang jauh lebih berat—menjaga agar republik ini tidak kehilangan arah moralnya. Ketika banyak pihak memilih pendekatan konfrontatif dan retorika keras, Sutan Sjahrir memilih jalan diplomasi dan rasionalitas. Ketika sebagian tergoda pada kekuasaan yang absolut, ia justru berdiri sebagai penjaga nilai demokrasi.
Dan di titik inilah keberanian sejatinya terlihat: ia berani melawan arus.
Melawan arus bukan berarti menentang tanpa alasan. Melawan arus adalah keberanian untuk tetap berdiri di atas prinsip, bahkan ketika seluruh dunia seakan bergerak ke arah yang berbeda. Sutan Sjahrir memahami bahwa kebenaran tidak selalu berada pada suara terbanyak, dan keadilan tidak selalu lahir dari keputusan yang populer.
Keberanian seperti ini bukan hanya langka, tetapi juga mahal. Ia menuntut kesepian. Ia menuntut keteguhan. Ia menuntut kesiapan untuk disalahpahami.
Namun justru dari situlah lahir pemimpin sejati.
Jika kita tarik ke dalam perspektif Islam, nilai yang diperjuangkan Sutan Sjahrir sejalan dengan prinsip fundamental dalam Al-Qur’an. Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 135: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri…” Ayat ini bukan sekadar ajakan, tetapi perintah yang menuntut keberanian moral tingkat tinggi.
Demikian pula dalam hadis Rasulullah ﷺ disebutkan bahwa sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Ini adalah bentuk keberanian yang tidak berbasis kekerasan, tetapi berbasis integritas. Dan inilah yang tercermin dalam perjalanan hidup Sutan Sjahrir—sebuah keberanian intelektual dan moral yang tidak tunduk pada tekanan zaman.
Sebagai anak Minangkabau, Sutan Sjahrir tidak berdiri sendiri dalam tradisi besar. Ia lahir dari rahim peradaban yang melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Hatta dengan integritasnya yang tak tergoyahkan, Haji Abdul Malik Karim Amrullah dengan kedalaman spiritual dan intelektualnya, serta Agus Salim dengan kecerdasan dan keluwesan diplomatiknya.
Namun setiap tokoh memiliki jalannya sendiri. Jika Mohammad Hatta dikenal dengan keteguhan prinsip ekonomi dan moral, dan Buya Hamka dengan dakwah yang menyejukkan, maka Sutan Sjahrir hadir sebagai simbol keberanian berpikir—pemuda yang tidak takut berbeda, tidak takut sendiri, dan tidak takut kehilangan posisi demi menjaga kebenaran.
Hari ini, ketika kita melihat realitas sosial dan politik, kita dihadapkan pada fenomena yang berbanding terbalik. Banyak yang memilih aman dalam keramaian. Banyak yang mengukur kebenaran dari jumlah dukungan, bukan dari nilai yang diperjuangkan. Bahkan tidak sedikit yang rela mengorbankan prinsip demi kenyamanan sesaat.
Di sinilah relevansi Sutan Sjahrir menjadi sangat nyata.
Pemuda Minangkabau tahun 2026 hidup di era yang berbeda—era digital, era percepatan, era informasi tanpa batas. Namun tantangan dasarnya tetap sama: apakah kita akan menjadi generasi yang hanya mengikuti arus, atau generasi yang berani menentukan arah?
Meneladani Sutan Sjahrir bukan berarti harus menjadi politisi atau pemimpin besar. Meneladaninya berarti berani jujur dalam kehidupan sehari-hari. Berani menolak ketidakadilan, sekecil apa pun. Berani berpikir kritis di tengah banjir informasi. Dan yang paling penting, berani menjaga integritas ketika tidak ada yang melihat.
Karena sesungguhnya, perubahan besar selalu dimulai dari keberanian-keberanian kecil.
Hari ini, republik ini tidak kekurangan orang yang bisa berbicara. Tetapi ia kekurangan orang yang berani berdiri. Ia tidak kekurangan orang yang cerdas, tetapi kekurangan orang yang berani menggunakan kecerdasannya untuk membela kebenaran.
117 tahun setelah kelahiran Sutan Sjahrir, kita dihadapkan pada satu kenyataan: warisan terbesar beliau bukanlah jabatan, bukan pula sejarah semata. Warisan terbesarnya adalah keberanian.
Keberanian untuk melawan arus.
Keberanian untuk menjaga kebenaran.
Keberanian untuk tetap teguh, bahkan ketika dunia tidak berpihak.
Dan jika kita ingin republik ini tetap berdiri di atas nilai yang benar, maka keberanian itu tidak boleh hilang.
Sebab pada akhirnya, republik ini tidak akan runtuh karena musuh dari luar, tetapi bisa runtuh ketika anak-anak mudanya kehilangan keberanian untuk menjaga kebenaran di dalam.(*)
