Paradoks Kota Terbersih ASEAN, Riyan Permana Putra Ketua Perindo Bukittinggi Ingatkan Penghargaan Harus Terasa di Pasar dan Destinasi Wisata

Bukittinggi — DPD Partai Perindo Kota Bukittinggi menyoroti paradoks antara penghargaan Kota Terbersih Tingkat ASEAN yang diterima Kota Bukittinggi dengan masih munculnya keluhan dan temuan persoalan kebersihan di sejumlah titik strategis, khususnya kawasan pasar dan pusat aktivitas ekonomi masyarakat sebagaimana diberitakan Banua Minang dalam berita berjudul: Kebersihan Kawasan Pasar Aur Kuning Timbulkan Pertanyaan pada 26 Januari 2026.

Ketua DPD Partai Perindo Kota Bukittinggi, Dr (c). Riyan Permana Putra, SH, MH, menyampaikan bahwa penghargaan internasional tersebut merupakan capaian penting dan patut dihargai. Namun, menurutnya, penghargaan justru menuntut standar yang lebih tinggi, bukan sekadar pengakuan simbolik.

“Di sinilah paradoksnya. Di satu sisi kita menerima predikat kota terbersih tingkat ASEAN, tetapi di sisi lain masih muncul pemberitaan dan keluhan masyarakat terkait persoalan sampah dan kebersihan, terutama di kawasan pasar. Ini bukan untuk melemahkan prestasi, melainkan untuk menguatkannya,” ujar Riyan.

Menurut Perindo Bukittinggi, penghargaan sekelas ASEAN seharusnya tercermin secara kasat mata di ruang publik yang paling sering bersentuhan dengan warga dan wisatawan.

“Kota terbersih itu bukan hanya terlihat di laporan penilaian, tetapi harus terasa di pasar tradisional, terminal, kawasan wisata, dan pusat kuliner. Jika di titik-titik itu masih bermasalah, maka publik wajar mempertanyakan konsistensinya,” tambahnya.

Antara Prestasi, Tanggung Jawab, dan Risiko Politik

Secara politik kebijakan, Riyan menilai penghargaan justru dapat menjadi pedang bermata dua bagi pemerintah daerah. Jika tidak diikuti perbaikan nyata, maka prestasi berpotensi berubah menjadi beban ekspektasi publik.

“Penghargaan menaikkan ekspektasi warga dan wisatawan. Jika realitas tidak sejalan, kepercayaan publik bisa tergerus. Ini risiko politik yang harus dikelola dengan kerja lapangan, bukan sekadar narasi,” tegasnya.

Perindo Bukittinggi menilai, kritik konstruktif perlu dibuka agar penghargaan tidak berubah menjadi paradoks kebijakan: prestasi tinggi di atas, keluhan nyata di bawah.

Kaitan Langsung dengan Peluang Adipura

Riyan juga menegaskan bahwa isu kebersihan ini sangat berkaitan langsung dengan peluang Bukittinggi meraih dan mempertahankan Adipura.

“Adipura menilai konsistensi, bukan momen. Jika penghargaan ASEAN ingin sejalan dengan Adipura, maka pengelolaan kebersihan harus berkelanjutan, terutama di pasar dan kawasan padat aktivitas,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa indikator Adipura menekankan:

kebersihan pasar rakyat,

pengelolaan sampah,

partisipasi masyarakat,

serta konsistensi kebijakan lintas OPD.

“Kalau ini diperkuat, penghargaan ASEAN justru bisa menjadi modal besar untuk Adipura. Tapi jika tidak, paradoks akan semakin terlihat,” katanya.

Dampak ke Pariwisata Bukittinggi

Lebih jauh, Perindo Bukittinggi menilai kebersihan adalah jantung pariwisata kota. Bukittinggi sebagai kota wisata nasional sangat bergantung pada kesan pertama wisatawan.

“Wisatawan tidak membaca laporan penghargaan. Mereka melihat, mencium, dan merasakan langsung. Pasar yang bersih, kota yang tertata, itu promosi paling jujur,” ujar Riyan.

Menurutnya, narasi kota terbersih ASEAN akan kehilangan makna jika tidak didukung oleh pengalaman wisata yang konsisten.

Solusi: Penghargaan Sebagai Titik Awal, Bukan Titik Akhir

Sebagai solusi, Perindo Bukittinggi mendorong:

1. Evaluasi pasca-penghargaan secara terbuka, bukan defensif;

2. Fokus pembenahan pasar dan destinasi wisata, sebagai etalase kota;

3. Penguatan koordinasi OPD, agar kebersihan tidak bersifat sektoral;

4. Pelibatan pedagang dan masyarakat, bukan hanya penertiban.

 

“Jika ini dijalankan, paradoks akan berubah menjadi kekuatan. Penghargaan bukan sekadar simbol, tetapi alat untuk menaikkan kualitas hidup warga dan daya saing pariwisata,” tutup Riyan.(*)

Bagikan:
Hubungi Pengacara